Mengenai Keracunan Pangan Seminar Gizi Nasional IPB

IPB from above

Beberapa hari ini menyeruak berita mengenai kasus keracunan pangan. Bukan hal yang spesial sebenarnya mengingat mayoritas dari kita adalah konsumen atau produsen yang “cuek” akan kebersihan makanan yang disantap atau diproduksi. Yang bikin berita ini hot adalah kasus ini terjadi di sebuah seminar pangan dan gizi di sebuah universitas dengan prodi gizi dan pangannya termasuk terbaik di Indonesia yaitu IPB. Dan almamater saya. How ironic! Menurut media massa, sebanyak ratusan orang dibawa ke rumah sakit karena keracunan setelah mengkonsumsi snack yang dibagikan saat acara seminar yang dinamakan Nutrition Fair tersebut, dengan tersangka snacknya adalah getuk. Tapi benarkah semiris itu? 

Sedikit review mengenai acara Nutrition Fair, seminar tersebut merupakan even penutup dari rangkaian acara tahunan Nutrition Fair yang diselenggarakan oleh Departemen Gizi Masyarakat IPB sejak beberapa tahun yang lalu. Acara ini selalu menarik dan seru (kayaknya dulu pernah ikut deh sekali seminarnya :o), terdiri dari berbagai perlombaan di bidang pangan dan gizi, olahraga bareng a.k.a aerobik, dan ditutup oleh seminar nasional yang dihadiri peserta dari berbagai universitas dan umum. Tahun ini Nutrition Fair bertemakan Pemanfaatan Pangan Lokal sebagai Upaya Pencegahan Masalah Gizi di Indonesia.

Berita keracunan tersebut cukup mengagetkan buat saya yang akhirnya ikut terusik (dan ga tahan pengen komen) dengan tanggapan dan komentar-komentar dari masyarakat maupun alumni IPB lainnya terhadap masalah tersebut. Ada yang bilang miris, ironis, bahkan tragis. Saya? cuma meringis. Bukan hanya karena sedih mengenai nasib para peserta yang keracunan, tapi  tentu saja berita tersebut akan menjatuhkan tidak hanya nama panitia, tapi juga departemen dan IPB, bahkan penyedia snack juga (yang padahal belum tentu keracunan itu disebabkan oleh snack aka getuk buatan mereka).  😦

Ketika adik saya pulang ke rumah, fyi adik saya merupakan mahasiswa Dept. Gizi Masyarakat di IPB dan kebetulan adalah divisi konsumsi acara seminar tersebut p.j snack! Wah, ketemu narasumber langsung nih. Begitu saya kroscek ke si adek, ternyata kasus keracunan di seminar hari itu tidak selebay yang diberitakan. Adik saya ikut mengantar ke rumah sakit dan tahu kondisi lapangan dari awal hingga akhir berita dan menurutnya, hanya beberapa peserta yang benar-benar muntah-muntah sejak awal, sebagian peserta lain merasa pusing dan mual tapi tidak sampai muntah-muntah. Dia juga menginfokan bahwa sebenarnya belum diketahui pasti penyebab keracunannya dan yang pasti bukan karena getuk yang diberikan saat acara.

Makanannya ga ada yang basi, getuknya juga. gw makan ga kenapa-napa. Panitia lain juga..” katanya. “bahkan pak kadep juga makan snacknya dan gak papa..”

Menurut infonya juga, Ketua Dep. GM telah mengadakan preskon mengenai kasus ini dan menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan getuknya, bahwa singkong yang digunakan tidak mengandung sianida maupun kelapa parutnya juga bagus dan tidak berlendir, yang ternyata bertolak belakang sekali dengan pemberitaan di sebuah media online (poskotanews), tertulis seperti ini,

“Ketua Departemen  Gizi  Masyarakat  Fakulutas Ekologi, Dr Budi Setiawan kepada wartawan menyesalkan kejadian ini. Namun dia tak bisa menyalahkan panita seminar nasional yang diikuti sekitar 1.800 peserta.  “Dari 1800 peserta seminar, sekitar 100 mahasiswa Jurusan Gizi angkatan 50 yang menghadiri seminar itu mengalami kercaunan (keracunan) dan sudah kami tangani dengan membawan ke sejumlah klinik dan rumah sakit . Sampai kini tidak ada yang dirawat,” ujarnya.

Sementara, makanan snack itu dibuat  11 industri rumahan  yang berada di sekitar Kampus IPB Dramaga. Panganan kue sebagai dalam kue kering lainya basah. “Kebanyakan yang keracunan menyantap pannganan kue getuk yang ditaburi ampas kelapa muda,” terangnya.

Pihaknya menduga ampas kelapa muda  ini sudah  terkontamisnasi  karena berlendir. Namun untuk memastikannya pihaknya bersama petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah mengambil sampel dari beberapa panganan tersebut untuk diperiksa di laboratorium

Hmmm. Sedih sekali ketika memikirkan bahwa pemberitaan ini akan sangat mempengaruhi masa depan industri rumahan yang disebutkan, bahkan bukan tidak mungkin acara Nutrition Fair di tahun-tahun selanjutnya akan terkorbankan. Apalagi seminar kali ini dihadiri sampai 1800 peserta nasional. Bukan, bukan salah panitia. Saya pun juga pernah menjadi panitia acara sejenis. Tentu saja kami tidak akan asal memesan snack/konsumsi untuk sebuah acara besar ke industri, meskipun industri rumahan, yang tidak diketahui reputasinya. Well, anything could possibly happen though.

Aneh memang jika melihat beberapa fakta, yang saya amati sendiri (CMIW) bahwa sekitar 100 mahasiswa Jurusan Gizi angkatan 50 yang menghadiri seminar itu mengalami kercaunan keracunan (kenapa dari 1800 peserta, 100 yang keracunan sebagian besar Jurusan Gizi angkatan 50? bukannya semua peserta diberikan snack yang sama?). Hal ini pun dibenarkan juga oleh adek saya bahwa sebagian besar peserta yang keracunan adalah anak-anak Gizi 50, serta beberapa keanehan lainnya, yang pada intinya mengerucut pada poin bahwa kasus ini tidak selebay yang diberitakan dan penyebabnya pun masih belum jelas (bahkan misterius!). 

Berkenaan dengan hal ini, mungkin perlu diingatkan bahwa kita sebagai muslim diutamakan untuk tabayyun dan intizhar dalam suatu masalah atau berita. Apa sih itu? “Tabayyun artinya mencari kejelasan atau kebenaran suatu fakta dengan teliti, seksama, dan hati-hati” bisa dengan cara kroscek ke yang bersangkutan atau dengan riset. Sementara “intizhar adalah proses melihat permasalahan secara menyeluruh yang dimulai dari pengamatan terhadap kenyataan (realitas) atau pengumpulan data, kemudian dilakukan analisa, dan menarik kesimpulan“. Kedua hal tersebut diutamakan dalam hal peperangan, tapi tentu saja dalam segala aspek kehidupan yang melibatkan hubungan antar manusia. More about tabayyun and intizhar you can read it here , here, or here. 🙂

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al Hujuraat : 6).

Dalam kasus ini, penting atau tidaknya pendapat saya, saya lebih percaya pada apa yang dinyatakan oleh adek saya ini, daripada berita-berita di media. Karena tentu saja, empirically, mereka tidak akan pernah meralat berita (apalagi yang miring) yang sudah mereka tuliskan, ya kan?. Sudah banyak media yang tugasnya membuat (bukan menyiarkan) berita. And that’s why I wrote this post. Karena kalau kita tidak berusaha memperbaiki nama baik almamater kita, siapa lagi?

Regardless, kasus ini menjadi pelajaran buat kita semua khususnya sebagai “konsumen” alias yang mengkonsumsi makanan darimanapun untuk selalu menjaga kesehatan (imunitas) tubuh dan memperhatikan makanan yang dikonsumsi, termasuk air. Oh dan jangan mudah percaya dan terpengaruh berita yang beredar sebelum klarifikasi langsung, minimal ga usah langsung judging 🙂.

Last but not least, salam rindu saya sampaikan untuk kampus hijau tercinta IPB khususnya Dep. ITP dan GM (karena kebetulan skripsi saya beberapa bulan lalu merupakan topik dari dua departemen ini), yuk ah tetap semangat dalam mengadakan event-event positif untuk kemajuan pangan dan bangsa ini!  Jayalah IPB Kita.  😀

Wallahu a’lam bish-shawab.

Advertisements

2 thoughts on “Mengenai Keracunan Pangan Seminar Gizi Nasional IPB

  1. Sebenarnya jika mbak baca dengan saksama artikel di atas, masih diselidiki apa penyebab keracunannya. Yang pasti bukan dari getuk. Malah saya pribadi tidak yakin apa memang keracunan makanan dr acara seminar tersebut, karena yang keracunan sebagian besar berasal dari 1 kelompok yang sama (Gizi angkatan 50), agak aneh bukan?
    Dan 100an orang itu yang dibawa ke rumah sakit karena diduga keracunan lho mbak Dina, bukan yang fiks keracunan sampai tingkat membahayakan. Informasi yg saya terima, yang keracunan sampai tingkat yang membahayakan dan perlu perawatan di rs hanya sekitar 5 orang, sisanya hanya merasakan pusing dan mual, yang sebenarnya juga biasa kita rasakan kalau kondisi badan sedang ga fit. Apapun itu, nanti selanjutnya akan saya update jika sudah ada kabar terbaru. Anw, terima kasih sudah mampir. 🙂

  2. jadi ini penyebabnya apa? kalau klarifikasi dan tidak benar kan juga harus ada fakta baru yang terungkap, yang tidak lain adalah penyebab sebenarnya. Jumlah 50-100 itu cukup banyak lho.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s