Simpatisan dan Empatisan

Di sekeliling, sungguh banyak orang yang merasa sedih, terluka, sakit jiwa, trauma, dsb. Bahkan orang terdekat dengan saya juga mengalami trauma dan kesedihan panjang karena sesuatu hal. Dulu, sebelum beberapa minggu terakhir ini, saya sebagai orang yang mengamati atau pendengar atau dicurhati orang yang sedang sedih dan luka hati, kadang merasa sangat sulit sekali berempati, simpati iya, empati.. belum tentu. Karena saya nggak merasakan apa yang terjadi pada mereka. Bahkan terkadang saya terlalu galak, tegas, atau strict dalam memberi feed back, penghiburan, dan masukan terhadap kesedihan-kesedihan tersebut. Dimana ujung-ujungnya yang curhat bukannya terhibur malah nambah sedih.

It’s not what happens to us, but our response to what happens to us that hurts us.” oleh Stephen R. Covey di buku The 7 Habits of Highly Effective People, efektif sekali untuk saya. Jadi kadang-kadang saya berpikir, kenapa anda trauma begitu ya karena anda menempatkan masalah itu sebagai sesuatu yang patut di-traumakan. gayanya udah kaya mario teguh belom? hehe.

Tapi itu dulu. Ketika saya nggak mengerti dan nggak pernah mengalami, ya sudah, saya hanya sebagai pendengar. Dan jangan berharap saya mengerti. Gitu. Dulu peran saya begitu sebagai pendengar dan saya nggak bangga dengan peran tersebut. Akhirnya sekarang saya masih belajar jadi orang yang lebih empatisan, bukan cuma simpatisan.

Memang kalimat mas Stephen Covey di atas itu cukup jleb, jika kita di posisi sebagai objek penderita alias orang yang sedang merasa sedih. Sebagai penderita, tombol perasaan harus coba kita netralisir, dan pikiran alias logika dihidupkan. Jangan sampai perasaan dibiarkan berurai-urai sampai muncul trauma atau negativity dari kesedihan kita mengalir kemana-mana.

TAPI itu jika ada di posisi penderita. Jika berada di posisi pendengar, atau jadi tempat cerita dan meminta solusi, kayanya ga cocok kalo kalimat mas Stephen itu diterapkan. Ketika mendengarkan, pikiran kita justru harus dimatikan sedikit. Perasaan dihidupkan. Karena kalo pikiran terlalu hidup, terlalu jalan, proses mendengarkan tidak akan optimal. Jika mendengarkan saja tidak optimal, bagaimana mau berempati..

Oke, bagaimana kalo kita sama sekali ga mengerti masalahnya? ga pernah ada di posisi tersebut? atau bahkan orang yg curhat bukan orang yang berada di lingkaran terdekat kehidupan kita? simple answer dari Kim Harrison, pengarang novel terkenal itu tuh, “…treat people with understanding when you can, and fake it when you can’t until you do understand.” Benar. Pura-puralah. Until you understand. Karena meskipun awalnya pura-pura, lama-lama akan terlatih berempati beneran, perasaan akan lebih peka.

Dan kenapa melatih kepekaan perasaan itu penting? Apa gunanya? toh selama masalah itu tidak terjadi sama saya, saya baik-baik saja. Silahkan berpikir demikian, tapi saya hanya ingin menyampaikan ini saja,

Permisalan kaum mukminin dalam sikap saling mencintai, dan saling kasih sayang mereka sebagaimana satu badan. Apabila satu anggota badan sakit, seluruh anggota badan ikut merasakan, dengan tidak bisa tidur dan demam” ( HR Muslim dari sahabat Nu’man bin Basyir).

Semoga bermanfaat. Wallahua’lam Bishowab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s