Ikhlas

Assalamualaikum Wr Wb.

Lamaaa kali rasanya tidak isi blog ini, maklum yah belum menemukan pemecahan masalah untuk konektivitas internat yang sangat complicated di Cikupa ini. Anyway, selamat membaca posting kali ini ya, yang materinya saya dapatkan dari om ketika pengajian keluarga Sabtu kemarin.

Cerita dulu boleh ya,
“Seorang lelaki dengan penghasilan pas-pasan hidup berdua dengan istrinya. Penghasilannya sebulan tidak menentu, kadang lebih, tak jarang juga kurang, tapi cukuplah untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan istrinya. Pada suatu Jum’at, ia mendapatkan penghasilan sebesar Rp 100.000. Kehidupan yang pas-pasan membuatnya terlatih untuk segera membagi uangnya dalam pecahan-pecahan yang lebih kecil untuk dialokasikan ke masing-masing kebutuhan. Disimpanlah Rp 1000 rupiah di saku kemejanya, Rp 50.000 di saku celana kanannya, serta sisanya di saku celana kirinya, lalu berangkatlah ia shalat Jum’at.
Ketika sedang mendengarkan khutbah Jum’at, lelaki itu ketiduran. Ia terbangun kaget ketika kakinya tersenggol kotak sedekah yang biasa diedarkan ketika khutbah Jum’at. Saking kagetnya, reflek ia merogoh saku celana kanannya dan mengeluarkan lembaran uang untuk dimasukkan ke kotak amal. Tapi ia langsung sadar ketika uang 50ribu dari saku celana kanannya sudah setengah jalan masuk kotak, padahal dari rumah ia berniat untuk menyedekahkan uang 1000 di saku bajunya. Sial, salah ini… tapi.. tengsin juga kalo dibalikin… akhirnya dengan beraaaaaaaaat hati ia masukkan uang 50ribuan itu ke dalam kotak. Penyesalan itu ia terus rasakan sampai pulang ke rumah. Sampai besok, mungkin sampai lusanya. Tapi tentu saja dengan Rp 50.000 sisanya ia dan istrinya bukan sampai tidak makan, hanya berubah, yang tadinya berniat menyantap beberapa potong ayam dan sambal untuk makan malam, musti diganti dengan cukup tempe dan sambal. Mau bagaimana lagi kan?”

Pertanyaannya, manakah yang lebih baik, sedekah dengan uang Rp 1000 tapi penuh keikhlasan, atau Rp 50.000 dengan tambahan kata sial dalam hati dan penyesalan sampai beberapa hari sesudahnya?
Jika sebagian besar menjawab lebih baik yang sedikit tapi ikhlas, sekarang pertanyaannya ditambah, apakah benar itu karena ikhlas atau kita hanya lebih menyayangi uang yang 50ribu dibandingkan yang 1000? hayooo. πŸ˜›

Sekarang yuk coba kita ubah sedikit kondisinya. Misalnya kita menjatuhkan uang Rp 1000 di tengah perjalanan, cuma sedikit dari kita, atau bahkan ga ada kali ya, yang rela balik lagi menyusuri jalan untuk mencari uang 1000 yang jatuh itu. Tapi lain ceritanya kalau yang jatuh Rp 50.000, pasti rela menyusuri balik jalan yang sudah kita lewati tadi, mata nyureng-nyureng memperhatikan seluruh bagian jalanan, bahkan bisa jadi sampai tanya orang-orang, sambil komat-kamit berdoa semoga uangnya ketemu. Ya iyalah, kan sayang 50ribu kalau jatuh begitu. Hehehe. Tapi berarti kita ternyata “tidak sesayang itu” dengan yang 1000. Betapa “tidak bernilainya” uang 1000 itu jika dibandingkan yang 50ribu.

Dan itu juga yang kita berikan pada Allah untuk disedekahkan. Yang kita simpan untuk bekal kita nanti di “sana”. Sesuatu yang kita “tidak sayang” atau bahkan bagi kita “tidak bernilai”.
Padahal bisa jadi lelaki tadi, dengan sedekahnya yang meningkat, walaupun awalnya merasa sayaaaaaaang banget bahkan keluar sumpahan sial, taraf hidupnya juga meningkat. Mungkin saat ini dia sayang yang 50ribu, berikutnya dia akan sayaaaang sama yang 100ribu, tapi ketika disedekahkan, ya sudah deh dilepaskan, meskipun sayaaaang banget. Dan dengan sedekahnya yang 100ribu, terlihat meningkat kan penghasilan yang ia terima. Selanjutnya 150ribu, haduuuh sayaaaaaang.. beraaaaat tangan ini mau masukin duit ke kotak amal, tapi ya sudah, let.it.go. #Ngetiksambilngebayangin

Ngomongin ikhlas, kayanya saat ini belum ada deh alat yang bisa mengukur sejauh apa keikhlasan seseorang. Apa itu ikhlas? Kadang kita bahkan ga tahu kita ikhlas atau tidak bahkan ketika kita merasa kita sudah ikhlas. Ingat surat trikul? hehe, alias Al Falaq, An-Nas, dan Al-Ikhlas? Di surat Al-Falaq, ada kata “Falaq” di ayat pertamanya, dalam surat An-Naas pun ada kata “Naas” pada ayat pertama. Tapi dimana kata “Ikhlas” di surat Al-Ikhlas? Sembari nginget hapalan nih πŸ˜‰

Ada yang menafsirkan bahwa definisi ikhlas terletak pada ayat kedua surat tersebut. Yaitu “Allaahusshamad” yang berarti “Allah tempat meminta segala sesuatu” atau sebagai tempat bergantung. Jadi bisa jadi itulah ikhlas, dimana kita hanya meminta atau bergantung pada Allah atas segala sesuatu, bahkan untuk penghidupan harian kita. Bukan pada uang 50ribu.

Ah, bagaimanapun sebenarnya definisi ikhlas itu, yang penting adalah semoga kita bisa selalu sedekah yang banyak betapapun “miskin” hartanya kita, menjadi orang yang selalu bergantung pada Allah, dan selalu bersyukur. πŸ™‚

Advertisements

4 thoughts on “Ikhlas

  1. Kalo kata ibuku skrg jamannya “Biar banyak asal ikhlas” … hehe ikhlas salah satu artinya “murni”, jadi ya bener katamu murni krn Allah, nanti Allah jg yg bls, LEBIH BANYAK :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s