Ikhlas

Assalamualaikum Wr Wb.

Lamaaa kali rasanya tidak isi blog ini, maklum yah belum menemukan pemecahan masalah untuk konektivitas internat yang sangat complicated di Cikupa ini. Anyway, selamat membaca posting kali ini ya, yang materinya saya dapatkan dari om ketika pengajian keluarga Sabtu kemarin.

Cerita dulu boleh ya,
“Seorang lelaki dengan penghasilan pas-pasan hidup berdua dengan istrinya. Penghasilannya sebulan tidak menentu, kadang lebih, tak jarang juga kurang, tapi cukuplah untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan istrinya. Pada suatu Jum’at, ia mendapatkan penghasilan sebesar Rp 100.000. Kehidupan yang pas-pasan membuatnya terlatih untuk segera membagi uangnya dalam pecahan-pecahan yang lebih kecil untuk dialokasikan ke masing-masing kebutuhan. Disimpanlah Rp 1000 rupiah di saku kemejanya, Rp 50.000 di saku celana kanannya, serta sisanya di saku celana kirinya, lalu berangkatlah ia shalat Jum’at.
Ketika sedang mendengarkan khutbah Jum’at, lelaki itu ketiduran. Ia terbangun kaget Continue reading Ikhlas

Advertisements

Kotaktengels; My first ever Kastengels

Assalamualaikum (calon) ibu-ibu newbie semua.

Dulu ketika saya kecil mamah sering bikin kastengel, dan saya sebagai anak berbakti tentunya membantu dong yaa :p . Bantuin bentuk-bentukin kastengel (padahal kastengel bentuknya mustinya gitu-gitu aja). Bikin bentuk love alias hati, karena mencong-mencong jadi kaya hati sapi akhirnya dirombak lagi, ngebentuk boneka, yang jadinya malah mirip bentuk.. mm.. apa ya.. sulit dideskripsikan, akhirnya dirombak lagi. Sampe akhirnya dimarahin mamah karena kelamaan ngebentuknya padahal udah mau dioven.. jadilah bikin boneka pocong alias lonjong-lonjong.. -___-

Sekarang mamah udah ga pernah bikin lagi, repot katanya, dan saya pun juga ga pernah nyoba, karena repot (sugesti). Sampai dengan kemarin, beberapa hari minggu yang lalu sih, saya yang lagi sendirian di rumah merasa kurang produktif, akhirnya nyoba-nyoba bikin kastengel sendiri pake bahan-bahan yang ada di rumah. Karena ga punya cetakan kastengel, jadilah adonannya cuma digiles trus dipotong kotak-kotak. Boleh kali ya dikasih nama Kotaktengels. Dan rasanya… Alhamdulillah agak keasinan tapi kata suami sih enak   [memang berbohong untuk menyenangkan istri itu boleh kan ya.. :”) ]
Pre-caution: standar “enak” berbeda pada setiap orang, saya tidak mau disuruh bertanggung jawab atas rasa yang terjadi setelah mengikuti resep dan tips ini, tapi kalo disuruh nyicipin mau.

Resepnya saya ambil dari salah satu website sebenernya, tapi lupa dari situs apa.. tapi dimodif sesuai keadaan ransum di rumah, jd saya tuliskan resep modifannya aja yaaa 😀  Continue reading Kotaktengels; My first ever Kastengels

Tumis sayuran warna-warni

Saya dan suami (berusaha) untuk suka banget dan sesering mungkin makan sayuran. Dan untuk sayuran, paling baik adalah dengan melakukan sesedikit mungkin proses pengolahan, bahkan ga diolah (misalnya salad baik salad lokal kayak lalapan atau karedok, maupun salad non lokal yg pake mayones ituhh). Tapi kan gimana gitu ya kalo makan mentahan terus, secara kami berdua belum terbiasa makan sesehat itu.

Atau sayur yang dikukus. Karena dengan mengukus (dibanding merebus), zat-zat bermanfaat dalam sayuran ga terbuang ke air, waktu masak relatif singkat (karena suhu uap dari air mendidih lebih panas dari air panas), dan warna tetep bagus. Menurut buku tips masaknya Wied Harry, 70% gizi sayuran larut air rusak ketika merebus sayuran. Tapi ya gitu, ada jenis pangan tertentu untuk waktu tertentu, krn ga setiap saat juga enak makan sayuran kukus ya.

Sebagai mantan anak kos yang hobi (di)masak(in), paling gampang ngolah sayuran itu kalo ga ditumis ya disop. Jadi weh pas di rumah tangga juga seringnya nyayur tumisan atau sop-sopan. Tumisan paling enak, apa aja bisa dimasukin ke tumisan. Kalo males masak, dari sayuran sampe lauk-lauk lainnya bisa saya masukin ke tumisan. Oke masuk deh ke tipsnya ya Continue reading Tumis sayuran warna-warni

Hijab Gone Wrong

Artikel ini saya repost dari seorang teman dunia maya, bukan muslimah, yang tak kenal saya (saya pun tidak kenal dia), tapi karena tulisannya membuat kita seolah-olah berteman. hehehe. #apasih. Anw, klik ini untuk lihat sumbernya. :))

Hari ini gue pergi ke sebuah mall bergengsi di kawasan Jakarta Pusat untuk ketemuan sama temen kuliah gue. Jarang-jarang gue pergi ke mall itu di akhir minggu kayak hari ini, karena asumsi gue: pasti rame. Asumsi gue bener. Hari ini, mall itu penuh banget sama bule-bule. Gue ketemu sama temen kuliah gue, ngobrol sambil makan, terus gue pulang. Gue pulang lewat toko buku yang liftnya ngehubungin mall dengan salah satu gedung perkantoran dan gedung itu lebih deket ke halte busway. Pas gue lagi nunggu lift, gue ngeliat Continue reading Hijab Gone Wrong

Membuat paper ilmiah mulai dari sini

Originally from Chris Wiggins on Nature’s Blod  “How  to Write a Paper (one possible answer)”

a student recently asked me how to write a paper. here’s an algorithm i’d suggest, with plenty of room for an individual to deviate.

  1. punchline(s)
  2. nickname
  3. *figures
  4. *references
  5. outline
  6. abstract
  7. (w) intro and outtro
  8. (w) middle
  9. show definite coauthors
  10. show possible coauthors
  11. acknowledgements
  12. title
  13. code
  14. submit and post
  • punchline(s)

readers, reviewers, and you in 5 years are going to want to have some pithy way of remembering that paper. what is the “main result”? what did you learn? Continue reading Membuat paper ilmiah mulai dari sini

Simpatisan dan Empatisan

Di sekeliling, sungguh banyak orang yang merasa sedih, terluka, sakit jiwa, trauma, dsb. Bahkan orang terdekat dengan saya juga mengalami trauma dan kesedihan panjang karena sesuatu hal. Dulu, sebelum beberapa minggu terakhir ini, saya sebagai orang yang mengamati atau pendengar atau dicurhati orang yang sedang sedih dan luka hati, kadang merasa sangat sulit sekali berempati, simpati iya, empati.. belum tentu. Karena saya nggak merasakan apa yang terjadi pada mereka. Bahkan terkadang saya terlalu Continue reading Simpatisan dan Empatisan